PROSPEKTIF PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM KONSTRUKSI MULTIKULTURAL MASYARAKAT INDONESIA

Penulis

  • Abu Amar Bustomi STAIS Salahuddin Pasuruan

DOI:

https://doi.org/10.26594/dirasat.v2i1.684

Kata Kunci:

Konstruksi Sosial, Budaya, Multikultural, Masyarakat Indonesia | Social Construction, Culture, Multicultural, Indonesian Society.

Abstrak

Abstrak: Multikulturalisme dalam hal ini bukan hanya sebuah wacana namun sebuah ideologi yang harus diperjuangkan, karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakat.  Multikulturalisme bukan sebuah ideologi yang berdiri sendiri terpisah dari ideologi-ideologi lainnya. Multikulturalisme membutuhkan seperangkat konsep dalam bentuk bangunan konsep yang dapat dijadikan sebagai acuan pemahaman dan pengembangan dalam konteks kehidupan bermasyarakat.   Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan pengetahuan berupa bangunan konsep yang relevan dan mendukung keberadaan serta fungsinya dalam kehidupan manusia.  Bangunan konsep ini harus dikomunikasikan antar para ahli yang mempunyai perhatian ilmiah yang sama tentang multikulturalisme sehinga terdapat kesamaan pemahaman dan saling mendukung dalam memperjuangkannya.  Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah, demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, sukubangsa, kesukubangsaan, kebudayaan suku bangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lain yang relevan.

Abstract: Multiculturalism in this case is not just a discourse but an ideology that must be fought, because it is needed as a foundation for democracy,  human rights and the welfare of society. Multiculturalism is not an ideology that is independent from other ideologies. Multiculturalism requires a set of concepts in the form of building a concept that can be used as a reference for understanding and development in the context of social life. To understand multiculturalism, someone needs a foundation of knowledge in the form of building concepts that are relevant and supportive to the existence and function of the human life. The building concept is to be communicated between the experts who have the same scientific concern about multiculturalism, thus there is a common understanding and mutual support in the struggle. Various concepts that are relevant to the multiculturalism include democracy, justice and law, cultural values and ethos, unity in diversity, equal ethnic, ethnicity, culture, religious beliefs, expressions of culture, domain private and public, human rights, cultural rights of community, and other concepts that are relevant.

Referensi

Mahfudz, M.A. Sahal. Nuansa Fiqih Sosial. Yogyakarta: LkiS, 1994.

Mastuhu. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INNS, 1994.

Munawar, Said Agil Husain Al. Fiqih Hubungan Antar Umat Beragama. Jakarta: Ciputat Press, 2002.

Sirry, Mun’im A., Ed. Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis.Jakarta: Paramadina, 2004.

Suparlan, Parsudi. Bhinneka Tunggal Ika: Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?. Makalah Disampaikan dalam Seminar, 2001.

_____. “Indonesia Baru Dalam Perspektif Multikulturalisme”. Dalam Harian Media Indonesia. 10 Desember 2001.

_____. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. Simposium Internasional Bali ke-3, Jurnal Antropologi Indonesia, Denpasar Bali, 16-21 Juli 2002.

Unduhan

Diterbitkan

2016-12-31

Cara Mengutip

Bustomi, A. A. (2016). PROSPEKTIF PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM KONSTRUKSI MULTIKULTURAL MASYARAKAT INDONESIA. Dirasat: Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Islam, 2(1), 132–145. https://doi.org/10.26594/dirasat.v2i1.684

Terbitan

Bagian

Artikel